Pesawat Misi ke Bulan Itu Hilang

Rabu, 11 November 2009
Data dari Chandrayaan-I terakhir ditransmisikan pada pukul 12.25 siang.
Minggu, 30 Agustus 2009, 11:10 WIB

Roket pembawa satelit Chandrayaan-1 sukses meluncur di Sriharikota, India (AP Photo/Aijaz Rahi)

India dilaporkan kehilangan pesawat ulang-alik Chandrayaan-I. Para peneliti dan teknisi di badan antariksa Isro kehilangan kontak dengan pesawat antariksa misi pertama India ke bulan ini pada Sabtu 29 Agustus 2009, pukul 1.30 pagi waktu setempat.

Data dari Chandrayaan-I terakhir ditransmisikan pada pukul 12.25 siang ke Jaringan Antariksa India di Byalalu, dekat Bangalore. Direktur Proyek Mylswamy Annadurai mengatakan misi Chandrayaan-I telah berakhir.

Namun juru bicara Isro S Satish mengatakan, pihaknya belum memastikan keadaan Chandrayaan-I. "Hanya saja hingga saat ini kami belum bisa mengirim atau menerima data dari Chandrayaan-I, kami baru dapat menyatakan misi berakhir atau dilanjutkan setelah dapat menganalisa data," tutur Satish di Mumbai seperti dikutip laman Times of India.

Kepala Isro Madhavan Nair mengatakan, pesawat antariksa itu masih dapat diperbaiki. Nair mengatakan Chandrayaan-I telah menyelesaikan 95 persen dari seluruh misi keilmuannya. Chandrayaan-I dijadwalkan mengorbit selama dua tahun, dan diluncurkan pada 22 Oktober tahun lalu.

Selama beberapa bulan terakhir, sejumlah masalah berkaitan dengan Chandrayaan-I muncul. Antara lain masalah temperatur yang menyebabkan sejumlah instrumen tidak berfungsi. Pada 26 April, sensor perbintangan Chandrayaan-I mengalami gangguan sehingga pesawat kehilangan panduan orientasi.


Sumber

www.at2012.co.cc

Makhluk Langka, JERBOA Muncul di China

Kamis, 05 November 2009
Beberapa ekor hewan pengerat yang sangat langka, Jerboa, kemarin menampakkan diri mereka di Gunung Flames (Huoyanshan) di Kota Turpan, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur, China.
Sebagaimana yang diberitakan Xinhua, Kamis (14/5), makhluk langka ini cukup menarik para pengunjung dan penduduk di kawasan tersebut. Pasalnya. Hewan pengerat ini dalam kondisi terancam punah dan masuk daftar merah. Makhluk padang pasir yang aneh ini juga berhasil diabadikan beberapa orang yang melihatnya di lokasi tersebut.


Jerboa yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Euchoreutes naso ini bercirikan kuping panjang dengan bentuk dan ukuran mirip tikus, namun memiliki bentuk tangan dan kaki mirip kanguru serta berekor panjang.

Ilmuwan dari Zoological Society of London (ZSL), Jonathan Baillie menyatakan bahwa panjang dari binatang kecil ini membantu peneliti untuk mempelajari seputar misteri Jerboa. Spesies ini tergolong langka.

Binatang yang sulit ditemukan ini pernah difilmkan dalam padang pasir Gobi selama ekspedisi yang dipimpin oleh Jonathan Bailie. Hingga kini, makhluk ini terbukti masih sulit untuk dipelajari. Sebab, bentuknya kecil, hidupnya di malam hari, dan lingkungan kehidupan padang pasir yang kejam juga dijalaninya sehari-hari.


Jonathan menambahkan binatang Jerboa ini memang menakjubkan. Sedikit rambut di kakinya hampir mirip sepatu salju, yang membantu mereka melimpat diantara gurun. Kemudian telinga mereka yang besar membantu pendengaran mereka menjadi tajam tentang apa yang terjadi di sekitarnya.









Rata-rata panjang tubuh hewan ini mencapai 70 mm (2,8 inchi) hingga 90 mm (3,5 inchi). Sementara panjang ekornya dua kali lipat antara 150 mm (5,9 inchi) hingga 163 mm (6,4 inchi).












sumber

www.at2012.co.cc

TAMBANG REAKTOR NUKLIR DUA MILIAR TAHUN LALU

Selasa, 01 September 2009
Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan Perancis yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama.

Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt.

Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan layout yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebar luas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua miliar tahun, setelah adanya bukti data geologi, dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia.

Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Hal yang patut membuat orang termenung dalam-dalam ialah bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini?

Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini terdapat peradaban manusia.

Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian ini menuju ke binasaan?

Jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu.

Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam.

Asal Peradaban Prasejarah

Penemuan reaktor nuklir di Gabon, harus diakui merupakan keunggulan peradaban prasejarah. Pertanyaannya, siapa yang membangun peraban tinggi itu? Saat ini terdapat dua penafsiran dari para ilmuwan mengenai pertanyaan ini.

Pertama adalah peradaban itu merupakan peninggalan makhluk angkasa luar yang melakukan penyelidikan di bumi, dan yang kedua adalah sebelum peradaban manusia masa sekarang, pernah ada keunggulan peradaban prasejarah manusia yang bertaraf tinggi.

Karena semakin banyak orang yang percaya dengan penafsiran kedua, maka ada ilmuwan yang mengusulkan diadakannya diskusi mengenai teori peradaban bumi.

Arkeolog biologi berpendapat bahwa selama 4,5 miliar tahun munculnya bumi hingga hari ini, sudah mengalami 5 kali kepunahan yang dahsyat, musnah dan terbentuk kembali, berputar dan kemudian memulai lagi, hingga pada kepunahan dahsyat yang terakhir yang terjadi 65 juta tahun lalu.

Ada yang menarik kesimpulan berdasarkan hal tersebut di atas, bahwa 2 miliar tahun yang lalu di bumi pernah ada peradaban tingkat tinggi. Namun malang, karena mengalami kepunahan akibat sebuah perang nuklir yang hebat atau perubahan bencana alam yang dahsyat.

Perubahan dunia pada ratusan juta tahun yang lalu telah membawa serta semua peninggalan peradaban, dan hanya menyisakan segelintir peninggalan benda-benda purbakala, yang sekarang menjadi sebuah teka-teki tak terpecahkan oleh manusia.

Ada juga yang berpendapat bahwa punahnya peradaban prasejarah manusia yang bertaraf tinggi, dikarenakan perubahan berskala besar pada iklim bumi. Atau dikarenakan kehilangan kestabilan gaya tarik bumi.

Di saat sistem tata surya bergerak pada posisi tertentu di ruang orbit bumi, maka secara periodik akan muncul iklim yang tidak serasi dengan kehidupan manusia di bumi. Pada 65 juta tahun yang lampau, musnahnya dinosaurus oleh karena hal tersebut di atas adalah merupakan sebuah contoh.

Perubahan iklim secara berkala di bumi ini, mengatur siklus awal dan evolusi makhluk berinteligensi tinggi. Tentu saja, semua ini hanya merupakan pandangan dari sebuah versi atau beberapa penafsiran saja, sedangkan mengenai misteri peradaban prasejarah, kita perlu lebih serius lagi untuk menyelaminya.

sumber

www.at2012.co.cc